Dalam banyak budaya kuno dan tradisi keagamaan, para penguasa dan anggota masyarakat elit tidak hanya memiliki istri, mereka juga memiliki selir.
Selir biasanya bertujuan untuk meningkatkan prestise pria melalui kapasitasnya untuk menghasilkan anak-anak dan, tentu saja, peluang tanpa batas untuk memuaskan hasrat seksual.
Sebagian besar orang mengasosiasikan selir dengan Cina kuno, di mana Kaisar diketahui memiliki ribuan selir, namun praktik selir tidak eksklusif untuk Cina saja.
Tradisi Selir Dari Seluruh Dunia
Praktek mengambil selir bermula ribuan tahun lalu, dimulai dari peradaban Mesopotamia kuno dan Babylonia, di mana anggota elit masyarakat mengambil selir, yang banyak dari mereka adalah budak, namun istri pertama selalu mempertahankan tempat utama dalam keluarga.
Dalam beberapa budaya Mesopotamia, pria mengunjungi wanita-wanita ini sebagai pelacur, yang dianggap sebagai pemenuhan tugas keagamaan yang terhormat, terlepas dari status perkawinan pria itu.
Selir juga muncul di Alkitab. Orang Israel sering mengunjungi selir mereka.
Istri mereka sendiri punya mahar, tetapi selir tidak. Dan ini adalah metode utama untuk membedakan dua posisi sosial ini dalam masyarakat.
Salah satu yang paling terkenal dalam Alkitab adalah Raja Salomo, yang dikatakan memiliki tiga ratus selir dan tujuh ratus istri.
Sementara selir tidak dapat diterima dalam agama Kristen dewasa ini, beberapa komentator Alkitab menyarankan bahwa Tuhan mengijinkan pria untuk memiliki lebih dari satu istri atau beberapa selir selama periode dari Banjir Besar hingga Perjanjian Lama untuk membangun populasi dunia.
Dalam Yudaisme, selir disebut dengan pilegesh yang berarti "nyonya rumah yang tinggal di rumah".
Menurut Talmud Babilonia, perbedaan antara selir dan istri adalah bahwa, istri terikat dalan pernikahan resmi yang didahului dengan pertunangan resmi.
Pemikir Yahudi tertentu, seperti Maimonides, percaya bahwa selir disediakan untuk raja, dan dengan demikian orang biasa tidak memiliki selir.
Dalam Islam, mengambil selir juga diizinkan.
Bab empat, ayat tiga dari Al-Qur'an menyatakan bahwa seorang pria dapat menikah dengan maksimal empat wanita jika dia dapat memperlakukan mereka dengan adil, dan jika dia tidak mampu, dia hanya dapat menikah hanya dengan satu wanita atau budak.
Pada zaman kuno, selir diizinkan di bawah rezim Islam. Terutama, wanita non-Muslim yang diambil sebagai tawanan perang, yang dijadikan selir, seperti yang terjadi setelah Pertempuran Bani Qariza.
Di zaman kuno (Pagan / Pra-Islam), jual beli budak adalah hukum sosial. Namun, untuk memeluk Islam, dianjurkan untuk membebaskan budak perempuan atau menikahkan mereka secara formal.
Di Yunani Kuno, praktik selir dicatat di sepanjang sejarah Athena.
Hukum menetapkan bahwa seorang pria dapat membunuh orang lain yang tertangkap basah berusaha menjalin hubungan dengan selirnya untuk menghasilkan anak-anak.
Selir Romawi Kuno
Di bawah hukum Romawi, selir ditoleransi karena hubungan itu tahan lama dan eksklusif.
Praktek ini memungkinkan seorang lelaki Romawi untuk memasuki hubungan informal tetapi diakui. Wanita yang status sosialnya rendah, merupakan hambatan untuk menikah.
Orang Romawi tidak menamai hubungan sesama jenis dengan homoseksualitas. Jika seorang pria dewasa menggunakan seorang budak atau pelacur pria sebagai pasangan pasif, hubungan ini diharapkan memainkan peran sekunder dalam perkawinan, di mana lelaki dewasa menunjukkan otoritas maskulinnya sebagai kepala keluarga.
Baca Juga
Selir Di Cina Kuno
Di Cina kuno, selir adalah praktik rumit di mana mereka memiliki peringkat menurut tingkat kesukaan Kaisar.
Situasi selir berkisar dari istri semu yang diperlakukan dengan baik hingga pelacur yang diperlakukan dengan buruk.
Seorang selir dapat memperbaiki status sosialnya dengan menghasilkan ahli waris, dan dapat naik status sosial sesuai dengan keinginan penguasa.
Salah satu contohnya adalah Consort Wu. Dia adalah permaisuri dan selir favorit Kaisar Zuanzong dari Tiongkok. Dikenal karena kecantikannya, ia naik ke peringkat tertinggi yang bisa dicapai selir.
Setelah istri Kaisar meninggal pada 724 M, Permaisuri Wu diperlakukan seperti Permaisuri oleh semua pelayan yang tinggal di istana.
Kaisar Tiongkok menyimpan selir mereka di Kota Terlarang. Di Dinasti Qing ada sekitar 20.000 selir Imperial dijaga oleh sejumlah kasim yang dikebiri untuk memastikan bahwa para selir tidak bisa hamil oleh siapa pun kecuali Kaisar.
Dalam banyak cerita, selir diambil dengan paksa dan dijual, tetapi ini tidak selalu terjadi. Tidak jarang dalam beberapa budaya keluarga yang lebih miskin memberikan putri mereka kepada penguasa untuk melihat apakah mereka akan dipilih sebagai selir atau tidak.
Hal ini sering memiliki tujuan ganda, yaitu menyingkirkan satu mulut ekstra untuk diberi makan, serta memberi putri mereka kehidupan yang nyaman, hak istimewa dan perlindungan.
Kehidupan Selir Di Kota Terlarang
Hirarki internal para selir sangat tegas dan tidak fleksibel. Mereka akan melakukan apa saja untuk maju.
Kecemburuan dan pertengkaran antar selir merajalela dan kehidupan sehari-hari jauh dari menyenangkan.
Menghabiskan malam dengan kaisar sulit didapat karena banyaknya jumlah selir, sehingga mereka akan bersaing keras melawan satu sama lain.
Istana tidak mengizinkan komunikasi dengan dunia luar, bahkan melalui surat. Larangan ini juga tidak mengizinkan seorang dokter memasuki istana dan melihat selir yang sakit.
Penyakitnya akan dijelaskan dan resep didapat dan diberikan sesuai dengan saran dokter.
Tetapi ada beberapa situasi di mana selir akan meninggalkan istana. Sama seperti kaisar yang menerima permaisuri sebagai hadiah dari penguasa asing, demikian pula kaisar dapat memilih untuk menjadikan salah satu selirnya sebagai hadiah kepada penguasa asing.
Masa Tua Dan Kematian Selir Cina Kuno
Beberapa selir diizinkan kembali ke keluarga mereka dengan pensiun yang memadai setelah bertahun-tahun bekerja.
Mereka bebas untuk mengejar kehidupan normal, termasuk menikah dan membangun keluarga. Namun, banyak selir yang terlalu tua hingga berakhir dan dipekerjakan di istana sebagai pelayan atau menjadi biarawati.
Salah satu bagian dari pergundikan yang tidak terlalu glamor adalah kenyataan bahwa para selir dianggap "milik" pribadi penguasa.
Mereka adalah miliknya dan bisa diperlakukan sesuka hati, termasuk membawa mereka bersamanya ke alam baka - apabila kaisar meninggal dunia.
Selir kekaisaran dieksekusi oleh kasim istana atau memilih untuk bunuh diri, biasanya dengan menggantung diri dengan syal sutra atau dengan
racun.
racun.
Pada bagian pertama dari dinasti Ming, selir sering dikurbankan dan dimakamkan di makam terpisah dekat kaisar yang telah meninggal. Dalam beberapa kasus, permaisuri dimakamkan hidup-hidup dalam posisi berdiri menunggu kedatangan kaisar di akhirat.
Selir Terakhir China
Sebagai permaisuri terakhir Tiongkok, Li Yuqin diperbudak sejak usia 15 tahun. Ini terjadi pada tahun 1943, selama pemerintahan Pu Yi.
Istri pertamanya kecanduan opium, sementara selir pertamanya menceraikannya, dan selir kedua telah wafat dalam keadaan misterius.
Para pelayan kaisar memutuskan bahwa Pu Yi membutuhkan pendamping baru, dan dia diminta melihat-lihat foto-foto gadis setempat, dan dia memilih Li Yuqin.
Untuk membawa gadis itu ke dalam istana ia berasalan membawanya untuk pergi belajar. Namun, gadis muda ini tidak menyadari apa yang sebenarnya menantinya.
Dia dibebaskan dari penjara pada tahun 1959 dan dikirim untuk bekerja di kebun raya Peking sampai ia meninggal, tanpa anak, karena kanker pada tahun 1967.
Li Yuqin adalah permaisuri wanita terakhir kaisar terakhir Tiongkok.
Sumber:
https://www.ancient-origins.net/human-origins-religions/secret-life-ancient-concubine-001301
Sumber:
https://www.ancient-origins.net/human-origins-religions/secret-life-ancient-concubine-001301



Comments
Post a Comment