Puisi Valentine Tertua Berasal Dari Tempat Tak Terduga Skip to main content

Puisi Valentine Tertua Berasal Dari Tempat Tak Terduga



Puisi tertua yang ditulis dalam semangat Valentine berasal dari abad ke-15. Namun yang mengejutkan, keadaan  penciptaannya cukup suram.

Kisah romansa dan intrik ini berpusat pada Charles, duc d'Orléans (Duke of Orléans, sebuah kota di utara-tengah Prancis). Ia lahir pada tahun 1394, dan merupakan seorang pangeran dan juga seorang penyair.

Situs web Charlesdorleans.net menggambarkannya sebagai pion yang sangat penting dalam Perang Seratus Tahun (1337 - 1453) karena dimainkan oleh berbagai faksi Perancis dan Inggris, yang masing-masing bersaing dengan yang lain dalam keserakahan, dan pembalasan.



Hidup charles ditandai dengan kekayaan dan kesengsaraan. Dia mendapatkan gelar Duke setelah ayahnya Louis I dibunuh oleh faksi Burgundi, yang bertempur dengan darah melawan partai Armagnac atas nama John the Fearless (Duke of Burgundy).

Berusia 21, Charles bertempur di Agincourt sebagai bagian dari konflik antara Kerajaan Prancis dan Inggris. Dia ditangkap oleh musuh, kemudian dikirim ke tanah musuhnya sebagai jarahan perang. Saudara laki-lakinya yang berumur 12 tahun - Jean d'Angoulême juga telah dikirim ke Inggris. Sekarang ia akan mengikuti jejak yang memalukan itu.

Sementara ia dipenjara di Menara London, ia menyusun contoh paling awal dari puisi Hari Valentine, yang ditujukan untuk istrinya (ia memiliki tiga istri selama hidupnya), karya tersebut berjudul A Farewell To Love.

A Farewell To Love itu ditulis di Menara London, meskipun Charles menghabiskan sebagian besar waktunya di Inggris, di rumah Sir Richard Waller. Waller adalah sesama bangsawan dan mereka dilaporkan menjalin persahabatan.

Sebelum dibebaskan pada 1440, pada usia 46, ia menyusun sebagian besar karya puitisnya. Syaratnya untuk kembali ke Prancis adalah bahwa ia tidak membalas dendam atas kematian ayahnya. Dia meninggal pada usia 71 tahun.

Comments

Popular posts from this blog

Buku Hitler Berisi Rencana Detail Holocaust Mengerikan Ditemukan Kembali

Library and Archives Canada baru-baru ini mengakuisisi buku tahun 1944, yang sebelumnya dimiliki oleh Adolf Hitler yang merinci cetak biru holocaust Amerika Utara. Laporan setebal 137 halaman, berjudul "Statistik, Media, dan Organisasi Yahudi di Amerika Serikat dan Canada," ditulis oleh ahli bahasa dan peneliti Heinz Kloss, yang berfokus pada kebangsaan dan bahasa untuk menciptakan sensus sistematis populasi Yahudi di benua itu. Dokumen itu dibeli tahun lalu dengan harga $ 4.500 dan diumumkan kepada publik Sabtu lalu, satu hari sebelum Hari Peringatan Holocaust Internasional. Kloss melakukan riset serius pada populasi Yahudi Amerika Utara, dan mengumpulkan jaringan simpatisan Nazi Amerika Utara dan organisasi Yahudi sepanjang kunjungannya ke A.S. pada 1936 dan 1937, dengan data sensus 1930-an sebagai fondasi laporan. Tujuan Kloss adalah untuk mengumpulkan data spesifik Yahudi, mengkonfirmasi angka-angka, dan berkontribusi pada upaya genosida Hitler. ...

Rahasia Dibalik Kecanduan Manusia Pada Agama

"Ada ribuan agama berbeda di dunia. Dan setiap orang percaya bahwa agama mereka benar dan kepercayaan orang lain salah." Tidak mungkin menggunakan kekuatan akal dalam debat tentang agama. Begitu kepercayaan tertanam dalam jiwa manusia khususnya selama masa kanak-kanak -- hal ini akan sangat sulit untuk dihilangkan. Dan sistem kepercayaan agama memuaskan kebutuhan psikologis yang kuat, yang sulit dipenuhi dengan cara lain. Ada bukti menunjukkan bahwa manusia sebelumnya dan banyak masyarakat adat di dunia tidak beragama. Sebagian besar kelompok pribumi -- setidaknya sebelum penjajahan dan penaklukan -- tidak memiliki konsep dewa yang memiliki campur tangan dalam urusan manusia. Sebaliknya, kelompok-kelompok pribumi cenderung animistis atau panteistik. Mereka membayangkan kekuatan spiritual impersonal yang meliputi semua hal, contohnya adalah konsep 'Roh' atau 'Misteri' yang dipahami oleh beberapa kelompok penduduk asli Amerika. Pada saat yang sama, mere...

Foto Langka Yang Menunjukkan Bagaimana Hidup Di Tahun 1850

Tahun yang menandai pertengahan abad ke-19 adalah titik balik bagi sebagian besar dunia. Dua tahun sebelumnya, Eropa terjerat dalam serangkaian revolusi yang menggantikan raja absolut menjadi negara nasional. Selain kekacauan politik, ekonomi juga mengalami transisi antara Revolusi Industri Pertama dan Kedua. Akhir abad ke-18 terjadi peningkatan radikal manufaktur di negara-negara seperti Inggris dan Prancis. Setelah terobosan ini, pada pertengahan abad ke-19, Jerman dan Italia, serta Amerika Serikat, dengan cepat mengejar dan menjadi kekuatan ekonomi di negara mereka sendiri. Baca Juga : Skandal Cinta Elizabeth I Penjual lilin di depan katedral, Chartres, Prancis. Foto diambil oleh Charles Nègre, 1851. Le joueur d'orgue de barbarie et deux enfants (Pemain Organ Barrel). Foto diambil oleh Charles Nègre di halaman belakang bengkelnya di 21 Quai de Bourbon, di Île Saint-Louis di Paris, sekitar tahun 1853. G. Roman, Potret Diri, 1851. ...