5 Kisah Pelarian Budak Yang Sukses Dalam Sejarah Skip to main content

5 Kisah Pelarian Budak Yang Sukses Dalam Sejarah



Perbudakan adalah praktik buruk yang hampir setiap ras dan peradaban pernah berpartisipasi di dalamnya dalam suatu waktu.

Perdagangan budak di Amerika Selatan bisa dibilang sebagai skala terbesar perdagangan manusia dalam sejarah. Status sosial ekonomi memiliki peran kecil, dibandingkan dengan warna kulit seseorang.

Ditahan dengan melawan kehendak seseorang, dan kadang-kadang dipaksa hidup dalam kemelaratan dan bekerja dari matahari terbit hingga terbenam, adalah nasib buruk yang banyak orang coba untuk melarikan diri. Beberapa di antaranya berhasil dan kemudian menjadi sukses besar, seperti kisah pelarian 5 budak ini.

Josiah Henson

Josiah Henson lahir di Maryland pada tahun 1789. Dia dan keluarganya di awasi seorang pengawas yang keras, dan tak segan memukuli para budaknya sampai hampir mati dan terkadang memutilasi mereka. Ayah Henson bekerja di sana kemudian dijual, dan tidak pernah terdengar lagi kabarnya.
Josiah Henson bertugas di Angkatan Darat Kanada sebagai perwira militer, memimpin unit milisi Hitam selama Pemberontakan Kanada tahun 1837.

Riley, majikan Henson telah membuat perjanjian bahwa Henson dapat memiliki kembali kebebasannya, tetapi ketika saatnya tiba, Riley menaikkan harganya dan mempertimbangkan untuk menjualnya.
Henson mengumpulkan istri dan anak-anaknya, kemudian menghilang. Mereka berjalan ke utara melalui Underground Railroad dan membangun kehidupan baru di Kanada.

Dia menjadi konduktor di Underground Railroad, dan bertemu dengan Ratu Victoria yang mendirikan pusat pembelajaran bagi para mantan budak di Dresden, Ontario.

William dan Ellen Craft

William dan Ellen Craft dari Georgia tinggal di perkebunan yang bertetangga, mereka bertemu dan menikah. Ellen berkulit terang dan bisa dianggap putih. Pada tahun 1848, Craft memotong rambutnya pendek, mengenakan pakaian pria dan kacamata, membungkus kepalanya dengan perban dan lengannya, untuk membuatnya tampak seolah-olah dia adalah seorang pria kulit putih yang terluka dan sedang bepergian dengan budaknya, William. Mereka naik sebuah kereta api ke Philadelphia.

Mereka tiba dengan selamat di Philadelphia pada bulan Desember, dan tinggal dengan orang Utara yang simpatik, sebelum kemudian menuju Boston. Setelah waktu yang singkat, keduanya pindah ke Inggris dan menghabiskan sisa hidup mereka di sana.

Henry Box Brown

Henry Brown adalah seorang kelahiran Virginia, yang pada tahun 1848 baru saja kehilangan keluarganya, karena mereka dijual dan dibawa pergi sebagai budak. Dia kemudian memutuskan akan mengirim dirinya sendiri ke utara.

Brown memasukkan dirinya ke dalam sebuah peti di dalam kereta yang digerakkan dengan mesin uap. Kereta menuju sebuah rumah simpatisan  di Philadelphia.

Dia menghabiskan 27 jam di dalam peti, dan satu setengah jam dalam keadaan terbalik. Setelah Undang-Undang Fugitive Slave diberlakukan, ia menuju ke Britania Raya. Setelah perang, ia kembali ke Amerika Serikat dan mencari nafkah sebagai pesulap.

Harriet Ann Jacobs

Harriet Jacobs lolos dari kekerasan dan kekejaman majikannya dengan melarikan diri dari North Carolina pada tahun 1835. Ketika menjadi budak, dia berselingkuh dengan seorang pengacara kulit putih setempat bernama Samuel Tredwell Sawyer dan dianugerahi dua orang anak. Jacobs berusaha membujuk tuannya untuk menjual anak-anaknya kepada ayah mereka dan melarikan diri, kemudian bersembunyi di loteng kecil selama tujuh tahun.

Menurut DocSouth, Sawyer memang membeli anak-anak itu, tetapi alih-alih membebaskan mereka, dia mengirim kedua anaknya ke New York untuk bekerja sebagai pelayan. Jacobs pergi ke New York dan mendapatkan kembali putrinya, Louisa, dan putranya, Joseph.
Mereka tetap di New York untuk sementara waktu, tetapi, karena Jacobs masih menjadi budak buron, mereka pindah ke Boston untuk menghindari tuannya yang masih mencarinya.

Pada tahun 1849, ia kembali ke New York dan bergabung dengan saudara lelakinya yang bekerja dengan kaum abolisionis, termasuk Frederick Douglass. Dia didorong untuk menulis cerita hidupnya dalam sebuah buku berjudul Incidents in the Life of a Slave Girl, yang diterbitkan penerbit Boston. Buku itu mengungkapkan alasannya berselingkuh dengan seseorang.

Jacobs bekerja dengan mantan budak di Utara dan Selatan ketika dia dan putrinya kembali setelah perang.

Mereka lalu dipaksa untuk pindah kembali ke Massachusetts, di mana mereka melanjutkan aktivisme mereka dengan membantu orang kulit hitam yang dibebaskan, sementara putrinya mendidik mereka di sekolah Jacobs yang baru didirikan, memungkinkan mereka untuk menjaga diri mereka sendiri. Harriet meninggal pada tahun 1897 sementara putrinya meninggal pada tahun 1917. Mereka dimakamkan di Pemakaman Mount Auburn di Cambridge, Massachusetts.

Thornton Blackburn

Thornton Blackburn dilahirkan sebagai budak di Kentucky, bersama istrinya yang melarikan diri pada tahun 1831. Dengan bantuan warga yang bersimpati di sepanjang jalan, mereka berhasil sampai ke Detroit, Michigan di mana Hukum Budak Pelarian tahun 1827 jarang ditegakkan. Menurut Detroit Historical Society, pada tahun 1833 mantan tuan mereka melacak mereka. Keduanya ditangkap sehari sebelum mereka dijadwalkan untuk menyeberang ke Kanada.
Dua wanita kulit hitam dengan status sosial yang agak tinggi mengunjungi Nyonya  Blackburn di penjara, dia diselundupkan keluar. Blackburn sendiri dijadwalkan akan dikirim kembali ke Kentucky, tetapi sekelompok pengunjuk rasa membuat keributan di jalan-jalan sehingga ia bisa pergi tanpa diketahui.
Dia dan istrinya bersatu kembali dan pergi ke Kanada, di mana setelah bekerja keras dan menghemat uang, dia dapat memulai bisnis taksi yang sukses.

Comments

Popular posts from this blog

Buku Hitler Berisi Rencana Detail Holocaust Mengerikan Ditemukan Kembali

Library and Archives Canada baru-baru ini mengakuisisi buku tahun 1944, yang sebelumnya dimiliki oleh Adolf Hitler yang merinci cetak biru holocaust Amerika Utara. Laporan setebal 137 halaman, berjudul "Statistik, Media, dan Organisasi Yahudi di Amerika Serikat dan Canada," ditulis oleh ahli bahasa dan peneliti Heinz Kloss, yang berfokus pada kebangsaan dan bahasa untuk menciptakan sensus sistematis populasi Yahudi di benua itu. Dokumen itu dibeli tahun lalu dengan harga $ 4.500 dan diumumkan kepada publik Sabtu lalu, satu hari sebelum Hari Peringatan Holocaust Internasional. Kloss melakukan riset serius pada populasi Yahudi Amerika Utara, dan mengumpulkan jaringan simpatisan Nazi Amerika Utara dan organisasi Yahudi sepanjang kunjungannya ke A.S. pada 1936 dan 1937, dengan data sensus 1930-an sebagai fondasi laporan. Tujuan Kloss adalah untuk mengumpulkan data spesifik Yahudi, mengkonfirmasi angka-angka, dan berkontribusi pada upaya genosida Hitler. ...

5 Dongeng Disney yang Diambil Dari Kisah Nyata

Banyak dari kita tumbuh dengan menonton film-film Disney dan kisah tentang para putri, peri dan ratu jahat yang menjadi bagian dari zeitgeist modern. Beberapa film asli dari Disney terinspirasi oleh cerita rakyat kuno - seperti putri Salju, Cinderella, dan Putri Duyung semuanya terinspirasi oleh dongeng Eropa. Tetapi tidak semuanya adalah dongeng, beberapa cerita didasarkan pada kisah nyata. Kisah-kisah itu mungkin telah diperindah,  atau diberi sentuhan lebih banyak oleh Disney Baca juga : ChiloĆ© Pulau Paling Misterius Di Chili Pocahontas Film Disney yang paling terkenal berdasarkan sejarah nyata adalah film Pocahontas 1995 - sebuah roman musikal yang berfokus pada hubungan antara puteri Powhatan Pocahontas dan pemukim Inggris John Smith. Film ini berkisah tentang ketegangan antara penduduk asli Amerika dan Inggris yang  mencoba mengambil tanah penduduk setempat, tetapi berakhir dengan Pocahontas menyelamatkan nyawa Smith yang memfasilitasi gencatan senj...

Ibnu Batutah, Marco Polo Dunia Islam

Sebelum penemuan transportasi seperti kereta api, pesawat terbang, dan perjalanan murah dan efisien di atas lautan terbuka, orang biasanya tidak melakukan perjalanan lebih jauh dari 20 mil dari kota asal mereka. Terkecuali untuk mereka yang sangat kaya. Barat memiliki Marco Polo. Dunia Islam memiliki Ibnu Batutah. Selama perjalanannya, Ibnu Batutah berkelana ke seluruh Afrika, Eropa Timur, Timur Tengah, India, dan Cina sebelum akhirnya kembali ke Maroko dan menjalani kehidupan yang lebih tenang sebagai cendekiawan Islam. Ibn Batutah lahir pada tahun 1304 di kota Tangier di Maroko modern. Keluarganya  dikenal karena menghasilkan hakim-hakim Islam. Ibnu Batutah menerima pendidikan yang kuat dalam Hukum Islam. Ini membantunya selama perjalanan, karena statusnya sebagai cendekiawan Islam menyebabkan orang-orang di tanah Muslim menunjukkan rasa hormat dan keramahtamahan, membantunya dalam perjalanannya dengan hadiah dan tempat tinggal. Selama hidupnya, ia melakukan perjalanan ha...